Oleh: Sugriyanto Sepenggal tuturan lisan yang masih mengiang di telinga yaitu gagalnya daerah lereng Gunung Malokok untuk dijadikan Kota Mekah jauh sebelum kejadian Kota Mekah yang ada di tanah Arab aslinya. Kepercisan antara Kota Mekah dengan Kaki lereng Gunung Malokok terlihat dari tekstur bebatuannya. Lempengan batu pualam (baca, Bawean: beto kombhung) di sepanjang aliran sungai di bawah lereng Gunung Malokok memiliki kemiripan dengan bebatuan di tanah suci Mekah. Rencana penjadian itu mengalami kegagalan disebabkan adanya seekor ayam jantan putih yang mendahului berkokok menjelang fajar menyingsing. Selain itu, cerita rakyat yang sempat tersiar luas pula bahwa di dalam perut gunung Malokok terdapat emas berbentuk kuda yang amat besar. Kebenaran akan cerita itu berdasarkan penerawangan orang "pintar" yang memiliki kekuatan tembus pandang setelah melihat dengan mata batinnya lewat kegiatan ritual meditasi di sebuah cungkup pada sebuah kaki gunungnya. ...
Oleh: Sugriyanto Betapa tercenung pikiran ini saat menyimak sepenggal larik dalam tembang berirama Melayu ciptaan Rhoma Irama bertitelkan “Anjing dan Sampah”. Pemetaforaan ini menggambarkan betapa hinanya seekor anjing (baca, Bawean: patek). Fonem {e} pada kata “patek” dilafalkan taling seperti bunyi fonem {e} pada kata “nenek”. Sedangkan konsonan {k} dilafalkan glotal stop atau sukun mati (hamza, red), bukan dibunyikan velar pada umumnya. Seekor anjing selalu diposisikan paling layak tempat baginya di persampahan. Sampai-sampai seseorang yang sudah terhina di hadapan manusia lainnya kerap diumpamakan anjing dan sampah. Padahal, keberadaan seekor anjing yang demikian itu belum tentu akan terhina pula di hadapan Sang penciptanya. Sejijik apapun kondisi sampah masih saja memiliki faedah dalam kehidupan manusia. Salah satu kefaedahan sampah terasa bagi seorang pemulung. Pemulung memungut segala rupa sampah untuk dijual dalam ra...