Langsung ke konten utama

SUMUR BERAIR SEDAP DI KAMPUNG TELLOK


Oleh: Sugriyanto
     Berbicara soal persumuran teringat akan sebuah karya sastra berjudul "Sumur Tanpa Dasar" yang artinya betapa menyindir bila sumur itu disinyalir dalam akan tetapi tetap tidak memilki dasar atau kedalaman. Dalam sebuah tajuk lagu irama melayu (dangdut) yang dilantunkan artis gaek Elvi Sukaesih "Mandi Tujuh Sumur" mengingatkan pada usaha membuang sial dari seseorang setelah terkena guna-guna. Kekuatan seorang "Pendekar Tujuh Sumur" cukup diperhitungkan dalam sabung jawara penuh kedikjayaan. Berawal dari sumur pulalah manusia menemukan sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
    Sekian lama kabar keberadaan beberapa sumur terdalam di Kampung Tellok Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Bawean Gresik Jawa Timur seperti terkubur saja. Keterkuburan kisahnya disebabkan oleh adanya pengadaan air bersih melalui pipanisasi sumber mata air pegunungan dalam pencanangan program air bersih di bawah bendera HIPAM (Himpunan Pengadaan Air Minum) di setiap desa baru-baru ini. Sekitar tujuh belas sumur dalam-dalam di Kampung Tellok mulai terkuak keberadaannya. Kedalaman sumur rata-rata di kampung tersebut mencapai dua belas meter lebih. Sumur-sumur yang usianya rata-rata hampir setengah abad ini ini telah memenuhi kebutuhan akan air bersih dari seluruh warga setempat. Jauh sebelumnya, warga Kampung Tellok bersumur pada salah satu sumur tertua dengan usia berabad silam lamanya. Kini, nasib sumur tertua  itu tersisih seperti tiada yang hendak hirau akan keberadaannya. Walau demikian airnya tetap menyumbar deras hingga cukup butuh dua depah saja sudah dapat dijangkaunya dengan timba.
     Salah satu sumur yang sempat terdetek dari dekat mengenai riwayat dan kefaedahannya adalah sumur milik keluarga besar Bapak Arifin (almarhum) di Kampung Tellok Desa Sungaiteluk. Sumur ini memiliki kedalaman mencapai dua belas meter lebih. Diameter sumur tersebut hampir mencapai tiga meter tanpa menggunakan "cicin beton" sebagaimana sumur-sumur galian kekinian. Alasan yang mendasar atas petuah dan keyakinan warga setempat bahwa penggunaan "cicin beton" akan mematikan sumber mata airnya. Rasa kadar airnya pun akan berasa semen beton yang terus merendam dan larut oleh desakan mata air. Sedangkan sumur warga Kampung Tellok hampir keseluruhan berdinding tanah liat yang tektur tanahnya cukup pekat dan padat. Selain itu, anggapan warga bila menggunakan cincin beton sebagai dinding di ke dalaman  lingkarannya sama halnya menutup sumber mata airnya sendiri.
      Orang terdahulu dalam menentukan sebuah tempat pada kedalaman sepetak tanah  menggunakan perhitungan yang matang dengan kekuatan spiritualnya. Tanpa menggunakan georadar atau alat pendetek mengenai ada atau tidaknya sumber mata air pada kedalaman tertentu sudah dapat diterawang lewat mata batin yang paling dalam. Setelah ditentukan titik galian oleh Bapak Arifin (almarhum) maka proses penggalian pun dilakukan secara gotong royong dari anggota keluar yang bersangkutan dengan cara naik- turun bergantian menggali tanah liat sedalam dua belas meter lebih.
     Membincang soal keberadaan sebuah sumur tidak pernah terlepas dari ketinggian letak geografis suatu tempat. Langka dan tidaknya sumber mata air galian ini umumnya ditentukan oleh beberapa faktor, terutama letak ketinggian dan suburnya tetanaman atau tumbuhan penyangga air di sekitarnya. Sumur milik keluarga Bapak Arifin (almarhum) ini digali sejak tahun
1973 dengan menggunakan alat yang amat sederhana berupa cangkul bertangkai pendek dan linggis (baca,Bawean: rajheng). Salah seorang tokoh pemberani untuk masuk turun ke dasar sedalam dua belas meter lebih itu adalah Bapak Subhan. Beliau sangat pemberani melakukan pengurasan dan pembersihan tanah lumpur sebagai endapan di dasar kedalamannya. Untuk turun naik pada ke dalaman itu menggunakan sistem gerek ulur tarik dengan seutas tali yang ditarik ulur di tiang penggerek. Pemandangan ini membuat seseorang yang melihatnya merasa kengerian bila tali penarik-ulurnya itu putus.
    Keutamaan sumber mata air sumur di Kampung Tellok telah teruji kesedapan dan kesegaran rasa airnya. Sering kali warga Kampung Temorrojing nun jauh di sana serta kampung-kampung lain mengambil air ke sumur di Kampung Tellok. Keaslian rasa airnya ini didukung tidak adanya limbah buangan beracun di dalam tanahnya sehingga tidak terkontaminasi. Umumnya sumur milik warga Kampung Tellok berada di luar atap rumah sehingga pengudaraan dan pencaayaan tetap terpenuhi. Selain itu wilayah Kampung Tellok berada pada sebuah dataran tinggi dengan tekstur tanah liat yang padat dan kedap sehingga daya saring atau daya filter terhadap kebersihan dan kejernihan airnya sangat terjamin.  Hampir belasan rumah telah memanfaatkan sumur milik keluarga besar Bapak Arifin (almarhum) baik dengan cara ditimba pakai sistem dua timba berkerek maupun melalui sedotan mesin pompa air. Sepanjang apapun kemarau melanda, persediaan air di sumur Kampung Tellok tetap menyumbar deras. Bila ingin tahu rasa kesedepan dan kesegaran air sumurnya bolehlah meneguk secawan sebagai testimoni. Selamat merasai...!















Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIADA LAGI KOKOK DI MALOKOK

Oleh: Sugriyanto     Sepenggal tuturan lisan yang masih mengiang di telinga yaitu gagalnya daerah lereng Gunung Malokok untuk dijadikan Kota Mekah jauh sebelum kejadian Kota Mekah yang ada di tanah Arab aslinya. Kepercisan antara Kota Mekah dengan Kaki lereng Gunung Malokok terlihat dari tekstur bebatuannya. Lempengan batu pualam (baca, Bawean: beto kombhung) di sepanjang aliran sungai di bawah lereng Gunung Malokok memiliki kemiripan dengan bebatuan di tanah suci Mekah. Rencana penjadian itu mengalami kegagalan disebabkan adanya seekor ayam jantan putih yang mendahului berkokok menjelang fajar menyingsing. Selain itu, cerita rakyat yang sempat tersiar luas pula bahwa di dalam perut gunung Malokok terdapat emas berbentuk kuda yang amat besar. Kebenaran akan cerita itu berdasarkan penerawangan orang "pintar" yang memiliki kekuatan tembus pandang setelah melihat dengan mata batinnya lewat kegiatan ritual meditasi di sebuah cungkup pada sebuah kaki gunungnya.  ...

ANTARA HOAX DAN “LEMPAT”

Oleh: Sugriyanto            Di dalam Agama Islam sudah digariskan bahwa berita bohong atau dusta bisa menjadi gibah dan fitnah. Kedua istilah ini termasuk dosa besar yang pengampunannya teramat sulit karena bila hendak menghapus dosa dari perbuatan menggibah dan memfitnah harus meminta maaf kepada orang yang digibahi atau difitnahi terlebih dahulu. Di dalam kitab suci Al-Qur’an sudah dinashkan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, artinya lebih kejam siksanya daripada pembunuhan kelak di akhirat. Fitnah juga lebih besar daripada pembunuhan, artinya lebih besar dosanya dibandingkan dosa membunuh orang (naudzubillah). Bila demikian orang beriman akan berpikir ribuan kali untuk melakukan perbuatan gibah dan fitnah itu. Sementara ini yang marak terjadi orang melontar kebohongan atau dusta yang terkategori gibah dan fitnah hanya dianggap dengan istilah “hoax” belaka sebagai dalih penghindar dari tanggung jawab moral kea...