Catatan Pelaut (1)
Ungkapan “cap jangkar” semakin mengemuka di kalangan masyarakat Pulau Bawean. Sebentar-sebentar warga merasa tersanjung, terutama para gadis saat dipersunting oleh lelaki atau pemuda yang berstatus pelaut atau pekerja kapal dengan istilah “kemaruknya” dapat suami “Cap Jangkar” atau lebih keren apabila para gadis-gadis itu dapat jodoh kapten kapal luar negeri. Semakin heboh lagi bila suaminya bekerja sebagai kapten atau nakhoda di kapal “Bunker Clerk” (baca, Bawean: Bangker Kelak) atau Karani. Master super heboh!
Selama ini memang dikesankan bahwa setiap pekerja kapal di luar negeri, terutama di Singapura dan di manca negara lainnya selalu diidentikkan dengan bekerja sebagai kapten atau nakhoda. Padahal, jenjang pekerjaan di kapal atau pelaut bertingkat-tingkat pula. Mulai dari paling bawah sebagai Cheif Officer Cook, Oiler 1, AB (Able Body 1), Buson atau Boatswain (Kepala Kerja), Chief Officer Engeneer, Chief Offiser (Kepala Kantor/ketatausahaan kapal), hingga Master atau kapten sebagai Nakhoda (Juragan,red) dengan standar upah gaji cukup memadai. Bahkan, bila diukur dengan pendapatan upah minumun nasional sebagai pekerja kapal di Indonesia pendapatan pekerja kapal di luar negeri jauh lebih tinggi hingga mencapai dua sampai tiga kali lipat di atasnya. Ketentuan jenjang posisi kerja di kapal tersebut belum termasuk bagian departemen-departemen yang membawahinya. Jumlah pos kerja dan personil kapal juga bergantung besar dan kecilnya ukuran kapal.
Selama ini, kapal-kapal yang singgah berlabuh dan lepas sauh atau lepas tambat di perairan Singapura dan sekitarnya memiliki ukuran cukup bervariasi, mulai panjang kapal berkisar 50 meter hingga kapal berukuran panjang mencapai 336 meter dengan lebar yang bervariasi pula. Muatan kapal juga beraneka macam sesuai dengan kebutuhan pasar. Ada kapal yang memuat mobil, minyak, curah, hewan, peti kemas (berbagai isi dalam kemasannya), penumpang (orang), pasir untuk reklamasi, hingga kapal pengerukan yang sering disebut sebagai kapal thriller. Kapal pengerukan itu sendiri masih memiliki beberapa kategori diantaranya; kapal keruk vacum sevtion, cutter section, arm section dan lain-lain. Ada juga kapal lepas pantai yang disebut kapal “Off Dhore, kapal Anchor Handling, serta kapal Rigs sebagai kapal pengeboran minyak lepas pantai dan lain-lain. Bila hendak bekerja di salah satu jenis kapal tersebut harus melampirkan ijazah atau sertefikat yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Selama ini para pelaut dituntut harus memiliki sekitar 13 hingga 25 sertifikat kepelautan bila hendak menduduki karier strategis di perkapalan. Bila tidak memiliki sertifakat dimaksud maka para pekerja kapal harus tabah untuk berjalan di tempat dalam menempuh jenjang dan karier selama di kapal. Gaji dan pendapatan pun akan terbedakan secara signifikan.
Untuk menduduki jabatan secara berjenjang di kapal dapat ditempuh lewat dua jalur yaitu jalur umum dan jalur pendidikan. Jalur umum ini banyak dilalui para pelaut yang menitih karier dari bawah tanpa melalui pendidikan formal sebelumnya, seperti para pelaut asal Pulau Bawean di masa silam. Orang-orang terdahulu bekerja di kapal khususnya di Singapura dan sekitarnya asal bekerja dan berpendapatan, belum memikirkan karier yang harus dilaluinya secara berjenjang. Wajar, bila para pelaut asal Pulau Bawean yang sudah puluhan tahun bekerja namun rumah dan harta kekayaan yang dimiliki cukup apa adanya karena umumnya bekerja kapal lewat jalur umum, tak mau ngetol lewat pendidikan kepelautan. Alasan utama yang membuat mereka memilih lewat jalur umum karena terkendala persoalan syarat pendidikan dasar di bawahnya yang belum cukup memadai. Jalur kedua yaitu lewat pendidikan formal kepelautan. Para pelaut saat ini banyak yang membuat decak kagum warga setempat karena baru seumur jagung bekerja di kapal luar negeri (umumnya di Singapura) sudah mampu membangun rumah mewah, memiliki mobil mewah, dan bergelimangan harta benda. Ternyata, memang faktor pendidikan dan jabatan di kapal sangat menentukan nilai pendapatan, serta memang sudah rezekinya demikian.
Betapa mencengankan gaji seorang Chief Officer Cook atau kepala juru masak kapal saja di Singapura gaji sudah mencapai $ 720 dolar Singapura atau sekitar Rp.8 jt rupiah perbulan yang biasa diterimakan setiap tanggal 25 hari bulan. Bila jatuh tempo gaji tepat hari Sabtu maka pihak perusahaan memajukan hari ke tanggal 24 hari bulan. Begitulah seterusnya proses penggajian, baik diterimakan secara tunai (cash money) ke tangan pekerja atau lewat tranferan ke kartu ATM (Automatic Teller Mechine) pekerja itu sendiri. Kadang ada juga perusahaan yang mengirim gaji pekerja kapal dimaksud ke nomor rekening istri di rumah. Termasuk biaya makan di kapal sudah ditanggung perusahaan dengan kisaran mencapai $170 dolar Singapura. Kapten atau Nakhoda yang cerdas dalam perhitungan bisa memanage uang makan tersebut hingga masih bisa mengoceki sisa uang dapur sekitar $ 50 dolar Singapura setelah diurunkan atau dipatungkan sesama pelaut satu kapal perbulan.
Biasanya para juru masak berbelanja akan kebutuhan dapur di Pasar Teban dan Pasar Geylang Singapura yang serba tersedia akan kebutuhan pokok sehari-hari. Daftar menu makanan pun sudah berkategori mewah dengan segala buah dan minuman bergizi yang berstandar halal atas kesepakatan warga sekapal. Benar-benar mutu menu makanan para pelaut terjamin, baik dari sisi kesehatan maupun sisi kehalalan. Namun, di luar line Singapura yang paling dirisaukan oleh para pekerja kapal asal Indonesia, khususnya warga Pulau Bawean yang notabene muslim yaitu persoalan makan di kapal dalam satu dapur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masakan berlauk “babi” di kapal luar negeri sudah biasa. Akan tetapi, seorang Nakhoda asal Pulau Bawean cukup menyendirikan satu kuali bila hendak memasak karena mayoritas ABK-nya nonmuslim. Hal ini menjadi salah satu kerisauan hingga Sang Kapten harus menelan rasa kegetiran hidup dalam kewas-wasan bila salah seorang ABK lain mencandainya dengan tanpa sepengetahuan pula kualinya dicuci menggunakan sabun dan alat gosok bekas mencuci “arrean” atau perkakas dapur yang sama. Subhatkah mungkin?
Sebaliknya, bagi para pekerja kapal khususnya line Singapura yang hidup dalam keroyalan di sana maka tiadalah hasil yang diperoleh tetapi impas pulang hanya berkalung jangkar metasi. Padahal, hampir seluruh bangunan rumah mentereng dan mewah di Pulau Bawean rata-rata rumah milik pekerja kapal luar negeri yang pandai memanage keuangan dan hidup pandai dalam berhemat. Kemewahan para pekerja kapal, terutama kaum bujang terlihat di saat tengah merayakan hari pernikahannya. Lumrahnya, saat ini para pelaut yang akan merayakan acara penganten “moleh” atau pulang ke rumah keluarga mempelay atau pengantin perempuan selalu membawa mas kawin berupa sepeda motor mewah dan tempat tidur elegan yang lux diperuntukan sang calon istri tercinta. “Suami Cap Jangkar sih!” Demikian ungkapan mempelay perempuan saat berbulan madu di malam pertama. Asyeek…!!!

Komentar
Posting Komentar