Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

SUAMI “CAP JANGKAR”

Catatan Pelaut (1)      Ungkapan “cap jangkar” semakin mengemuka di kalangan masyarakat Pulau Bawean. Sebentar-sebentar warga merasa tersanjung, terutama para gadis saat dipersunting oleh lelaki atau pemuda yang berstatus pelaut atau pekerja kapal dengan istilah “kemaruknya” dapat suami “Cap Jangkar” atau lebih keren apabila para gadis-gadis itu dapat jodoh kapten kapal luar negeri. Semakin heboh lagi bila suaminya bekerja sebagai kapten atau nakhoda di kapal “Bunker Clerk” (baca, Bawean: Bangker Kelak) atau Karani. Master super heboh!      Selama ini memang dikesankan bahwa setiap pekerja kapal di luar negeri, terutama di Singapura dan di manca negara lainnya selalu diidentikkan dengan bekerja sebagai kapten atau nakhoda. Padahal, jenjang pekerjaan di kapal atau pelaut bertingkat-tingkat pula. Mulai dari paling bawah sebagai Cheif Officer Cook, Oiler 1, AB (Able Body 1), Buson atau Boatswain (Kepala Kerja), Chief Officer Engeneer, Chief Off...

ANTARA HOAX DAN “LEMPAT”

Oleh: Sugriyanto            Di dalam Agama Islam sudah digariskan bahwa berita bohong atau dusta bisa menjadi gibah dan fitnah. Kedua istilah ini termasuk dosa besar yang pengampunannya teramat sulit karena bila hendak menghapus dosa dari perbuatan menggibah dan memfitnah harus meminta maaf kepada orang yang digibahi atau difitnahi terlebih dahulu. Di dalam kitab suci Al-Qur’an sudah dinashkan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, artinya lebih kejam siksanya daripada pembunuhan kelak di akhirat. Fitnah juga lebih besar daripada pembunuhan, artinya lebih besar dosanya dibandingkan dosa membunuh orang (naudzubillah). Bila demikian orang beriman akan berpikir ribuan kali untuk melakukan perbuatan gibah dan fitnah itu. Sementara ini yang marak terjadi orang melontar kebohongan atau dusta yang terkategori gibah dan fitnah hanya dianggap dengan istilah “hoax” belaka sebagai dalih penghindar dari tanggung jawab moral kea...

SUMUR BERAIR SEDAP DI KAMPUNG TELLOK

Oleh: Sugriyanto      Berbicara soal persumuran teringat akan sebuah karya sastra berjudul "Sumur Tanpa Dasar" yang artinya betapa menyindir bila sumur itu disinyalir dalam akan tetapi tetap tidak memilki dasar atau kedalaman. Dalam sebuah tajuk lagu irama melayu (dangdut) yang dilantunkan artis gaek Elvi Sukaesih "Mandi Tujuh Sumur" mengingatkan pada usaha membuang sial dari seseorang setelah terkena guna-guna. Kekuatan seorang "Pendekar Tujuh Sumur" cukup diperhitungkan dalam sabung jawara penuh kedikjayaan. Berawal dari sumur pulalah manusia menemukan sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.     Sekian lama kabar keberadaan beberapa sumur terdalam di Kampung Tellok Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Bawean Gresik Jawa Timur seperti terkubur saja. Keterkuburan kisahnya disebabkan oleh adanya pengadaan air bersih melalui pipanisasi sumber mata air pegunungan dalam pencanangan program air bersih di bawah bendera HIPAM (Himpunan P...