Oleh: Sugriyanto
Sepenggal tuturan lisan yang masih mengiang di telinga yaitu gagalnya daerah lereng Gunung Malokok untuk dijadikan Kota Mekah jauh sebelum kejadian Kota Mekah yang ada di tanah Arab aslinya. Kepercisan antara Kota Mekah dengan Kaki lereng Gunung Malokok terlihat dari tekstur bebatuannya. Lempengan batu pualam (baca, Bawean: beto kombhung) di sepanjang aliran sungai di bawah lereng Gunung Malokok memiliki kemiripan dengan bebatuan di tanah suci Mekah. Rencana penjadian itu mengalami kegagalan disebabkan adanya seekor ayam jantan putih yang mendahului berkokok menjelang fajar menyingsing. Selain itu, cerita rakyat yang sempat tersiar luas pula bahwa di dalam perut gunung Malokok terdapat emas berbentuk kuda yang amat besar. Kebenaran akan cerita itu berdasarkan penerawangan orang "pintar" yang memiliki kekuatan tembus pandang setelah melihat dengan mata batinnya lewat kegiatan ritual meditasi di sebuah cungkup pada sebuah kaki gunungnya.
Sebenarnya, nama Gunung Malokok itu merupakan sebutan lain dari Gunung Menir. Istilah "menir" itu sendiri bila dicari padanannya dalam bahasa Bawean dapat berupa kata "malokok". Penamaan ini sesuai dengan nama bulir padi yang ditumbuk dalam sebuah lesung berupa serpihan butir beras yang kecil-kecil atau halus-halus (baca, Bawean: Malokok). Cerita yang hingga saat ini melegenda mengenai nama Gunung Malokok diangkat dari peristiwa letusan gunung api aktif bernama Gunung Totoghi yang berada di sekitarnya. Ratusan tahun silam gunung yang hingga saat ini terus mengeluarkan sumber air panas tersebut telah melemparkan segumpal magma atau lava panas ke daerah sekitar. Lava atau magma itu akhirnya mendingin hingga membeku menjadi sebuah gunung bernama Gunung Malokok. Jarak antara kedua gunung itu berdekatan. Kebetulan pula di puncak gunungnya terdapat beberapa makam orang "suci", salah satu di antaranya berupa kuburan Nyai Malokok. Menurut pandangan beberapa ulama "khos" asal Banjarmasin Kalimatan Selatan di puncak Gunung Malokok terdapat makam Radin Said atau Makam Sunan Kalijogo. Persoalan benar dan tidaknya masih membutuhkan metode pembuktian lebih lanjut. Makam-makam yang berada di puncak Gunung Malokok ditudungi atau dinaungi oleh pohon Kalompang yang biasa tumbuh dan hidup dengan usia hingga bertahan ratusan tahun. Pohon tersebut menjadi tengara bahwa makam yang dinaunginya oleh jenis pohon tersebut bukan sembarang makam. Biasanya berupa makam para ulama' dan wali.
Letak Gunung Malokok berada di wilayah Kecamatan Sangkapura Bawean Gresik Jawa Timur. Sekitar tiga ratus meter di sebelah utara alun-alun Kota Sangkapura terlihat ketinggian sebuah gunung mencapai dua ratus meter di atas permukaan air laut. Sebelah barat dari Gunung Malokok terdapat Kampung Patar dan Kampung Disallam. Di sebelah timur terdapat Kampung Pulangasih. Di balik gunung bagian utara terdapat Kampung Teguh dan Kampung Gunung-Gunung. Kedua kampung tersebut menjadi kampung "bebas sinyal" dari beberapa jaringan telepon seluler karena terhadang oleh ketinggian Gunung Malokok. Cukup dengan memasang tiang antena VHF penangkap sinyal, warga dari kedua kampung dimaksud sudah dapat menangkap datangnya sinyal dari kiriman beberapa tower seluler yang berada di Sangkapura kota. Warga kedua kampung tersebut tidak perlu lagi memanjat pohon tinggi-tinggi seperti waktu sedia kala sebelum antena VHF masuk ke wilayah tempat tinggal mereka. Seperti di beberapa tempat di Pulau Bawean masih banyak warga yang harus naik-tutun untuk manjat pohon bila sekedar hendak berkomunikasi via HP dengan keluarganya di luar negeri dan sekitarnya. Terlihat unik bila menyaksikan sebuah pohon rindang berbuah orang sekadar tujuan untuk mencari sinyal HP selulernya.
Di lereng Gunung Malokok bagian selatan terdapat cungkup makam para ulama dan kiai. Salah satunya berupa makam Purbonegoro. Warga sangkapura di masa silam sering melakukan kegiatan nyekar atau berziarah ke komplek makam ulama besar tersebut. Beberapa anggota keluarga datang melakukan acara selamatan dan makan bersama di cungkup lereng Gunung Malokok. Tujuan utama hanya menunaikan nadzar atau acara (baca, Bawean: paneatan) atas kedapatan berkah dari salah satu anggota keluarga. Acara makan bersama itu merupakan wujud berbagi kepada sesama dan anggota keluarga serta sekadar "menyalami" juru kunci makam agar perawatan dan penjagaan kebersihan areal makam terus terjaga. Kegiatan beraroma tradisi itu kini sudah tiada lagi seperti ketiadaannya juru kunci makam yang biasa merawat dan menjaganya. Tiadalah patut diherani bila makam para leluhur saat ini menjadi seperti terbiarkan keberadaannya. Rimbun dan tidak "resik" seperti dulu lagi pemandangannya saat ini.
Berhektar tanah dengan sudut kemiringan yang cukup terjal di Gunung Malokok itu masih bisa dimanfaatkan untuk lahan produktif. Beberapa tanaman buah dan pohon tumbuh subur di hamparan tanahnya. Ada beberapa pohon buah yang tumbuh subur di sana di antaranya; pohon kelapa, pohon pisang, pohon mangga, pohon buah merah, pohon kopi, pohon cengkeh, serta tanaman ubi kayu. Selebihnya berupa pohon-pohon besar yang dapat dimanfaatkan kayunya untuk berbagai keperluan hidup. Pada saat musim penghujan seperti saat ini tumbuhan perdu dan dahan pohon rindang berdaun hijau ranum. Akan tetapi, pada saat musim kemarau tumbuhan terlihat kering dan meranggas. Hampir berulang kali di Gunung Malokok terjadi peristiwa kebakaran, baik yang disengaja maupun tidak disengaja hingga saat ini masih dalam teka-teki mengenai penyebab kebakaran hutan di gunung tersebut.
Orang belum banyak tahu bahwa di hamparan tanah Gunung Malokok terdapat tanam liar berupa "bengkoang" alam yang tumbuh secara alami. Bila segerombolan anak muda melakukan pendakian menuju puncak Gunung Malokok di zaman dahulu tidak perlu membawa bekal makanan dan minuman karena di setiap jengkal tanah tapakan pendaki cukup mencabut sekenanya umbi "bengkoang" sebagai ganti kebutuhan akan logistiknya. Kerinduan yang terus menggelayut di telinga dan lubuk sanubari yaitu tiadanya terdengar lagi kokok ayam alas yang setiap pagi berbunyi dan terdengar penuh kesyahduan memecah keheningan. Bunyi kokok ayam alas dengan suara merdu dan melengking panjang itu kini tinggal bekas ngiangan di telinga warga sekitar. Semua ditelan habis oleh keserakahan manusia yang pada akhirnya hanya bisa menggerutu dengan untaian rasa "getun" atau "cone" karena suara alam "Bunyi kokok di Malokok" sudah berlalu meninggalkan pergi.Tamat sudah akhirnya!

Komentar
Posting Komentar