Oleh: Sugriyanto
Betapa tercenung pikiran ini saat menyimak sepenggal larik dalam tembang berirama Melayu ciptaan Rhoma Irama bertitelkan “Anjing dan Sampah”. Pemetaforaan ini menggambarkan betapa hinanya seekor anjing (baca, Bawean: patek). Fonem {e} pada kata “patek” dilafalkan taling seperti bunyi fonem {e} pada kata “nenek”. Sedangkan konsonan {k} dilafalkan glotal stop atau sukun mati (hamza, red), bukan dibunyikan velar pada umumnya. Seekor anjing selalu diposisikan paling layak tempat baginya di persampahan. Sampai-sampai seseorang yang sudah terhina di hadapan manusia lainnya kerap diumpamakan anjing dan sampah. Padahal, keberadaan seekor anjing yang demikian itu belum tentu akan terhina pula di hadapan Sang penciptanya. Sejijik apapun kondisi sampah masih saja memiliki faedah dalam kehidupan manusia.
Salah satu kefaedahan sampah terasa bagi seorang pemulung. Pemulung memungut segala rupa sampah untuk dijual dalam rangka memenuhi tuntutan hidupannya. Dari tumpukan sampah pulalah tercipta biogas pembangkit tenaga listrik dan pupuk kompos. Ratuasan, bahkan ribuan tenaga kerja terserap berkat adanya sampah. Mungkin saja, baru satu sisi yang bisa dikuak oleh manusia pada umumnya mengenai segi kehinaan dan kejijikan anjing dan sampah. Kebencian seseorang terhadap seekor anjing dikarenakan sifat najis besarnya (mughalladah, red) dan kesenangannya mengais makanannya di atas onggokan sampah yang berbau. Sisa-sasa makanan dan tulang-belulang yang masih bersisa daging menjadi santapan kesukaannya. Di sinilah mungkin letak awal pandangan sepihak terhadap keberadaan seekor anjing.
Seekor anjing selama ini dikesankan sebagai binatang penjilat. Sifat kepenjilatannya itu terlihat dalam pandangan mata manusia kebanyakan yaitu menampakkan lidahnya yang selalu menjulur-julur. Namun, sisi lain yang menarik untuk dicermati dari seekor anjing yaitu memiliki sifat setia kepada majikannya yang telah mengupahinya dengan makanan kesukaannya berupa daging hewan lainnya. Kedua mata sisi sifat plus dan minus yang menempel pada diri seekor anjing ini pulalah yang menyebabkan kehinaan dalam pandangan manusia kebanyakan. Munculnya pandangan miring hingga sarkastis terhadap seekor anjing ini karena pandangan sebelah mata yang belum menyentuh kepada kefaedahan terhadap manusia dan alam sekitarnya. Diakui atau tidak, seekor anjing juga kerap dijadikan hewan pendampingan dalam berburu hewan lain di hutan pedalaman dan belantara lainnya. Tragedi perburuan bersama Si Tumang (nama seekor anjing) sebagai ayah Sangkuriang dalam bingkai legenda “Cinta Terlarang”, hatinya telah dikorbankan. Demi memenuhi hasrat seorang ibu (istri Si Tumang) yang mengidamkan hati seekor rusa digantinya dengan hati seekor anjing Si Tumang sebagai ayah kandung Sangkuriang sendiri. Anjing Si Tumang harus tumbang dibunuh dengan cara memanahnya di saat tak didapatinya hati seekor rusa sebagai gantinya oleh anaknya sendiri. Suara lolongannya kerap memberi isyarat akan adanya tanda-tanda sesuatu yang akan terjadi. Bahkan, seekor anjing lebih dahulu mengetahui lewat daya penciuman dan pendengaran di saat akan terjadi bencana, semisal tsunami sekalipun. Bahkan, adanya hantu atau makhluk gaib lainnya yang tengah berkelebat terendus olehnya hingga melolongkan suaranya penuh nuansa kengerian. Siapa saja akan merasa merinding sukmanya bila mendengarnya!
Beberapa ulama besar termasyhur sebagai pemuka madzhab sekalipun memiliki pandangan yang bervariasi pula mengenai sifat kenajisan seekor anjing. Anjing masuk dalam perbincangan menarik dalam kehidupan ini, hingga menyentuh persoalan kefiqihan. Kadang-kadang seseorang yang merasa dongkel dan kesal terhadap orang lain tak segan-segan pula melampiaskan ungkapan kejengkelannya dengan letupan amarahnya “Dasar Anjing!” Apa gerangan kesalahan seekor anjing hingga tiada ampun sedikit baginya dan selalu dihinakan. Posisi anjing dalam situasi apapun selalu terpojok dalam ruang hidup ini. Hewan lain jarang mendapat julukan “gila” (rabies) seperti anjing. Anjing juga tertuding bila hadir dalam mimpi hingga menggigit kepada Sang pemimpi itu sebagai isyarat adanya kiriman sihir atau tenung dari seseorang yang merasa iri, hasut, dan dengki. Bila sekadar hadir dalam mimpi tak perlu terlalu dihirau dan anggap saja sebagai “Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu!” sebagai penghias bunga-bunga tidur.
Seorang Pavlov dengan teori stimulasinya melakukan percobaan menggunakan seekor anjing dengan iringan atau paduan bunyi bel waktu menjelang pemberian makan. Rangsangan atau stimuli yang diberikan kepada anjing berupa bunyi-bunyi di saat hendak memberi makan berupa daging akan memberikan efek yang sangat berarti. Tatkala seorang majikan cukup sekadar membunyikan bel tanpa membawa sepotong daging untuknya, air liur anjing mengalir sebagai pertanda rangsangan dari sebuah pembiasaan. Seekor anjing dipilih dalam teori tersebut untuk menegaskan dan menjelaskan betapa pentingnya kehadiran sebuah rangsangan dari pembiasaan berdasarkan beberapa pertimbangan. Salah satu pertimbangan mengapa anjing pula yang dijadikan percobaan, bukan kelinci? Pada diri seekor anjing ternyata memiliki kekuatan daya cium dan tingkat kecerdasan otaknya yang relatif melebihi kecerdasan otak hewan lain pada umumnya. Berdasarkan keterangan dari beberapa sumber bacaan didapat sebuah pandangan bahwa kekuatan daya penciuman seekor anjing mampu menjangkau jarak kiloan meter dan kemampuan membedakan aroma sebuah benda cukup selektif.
Sebuah institusi negara, seperti POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) telah berhasil mengeksplor kekuatan dan kelebihan yang dimiliki seekor anjing sebagai pelacak dalam memburu keberadaan benda atau orang yang dianggap mencurigakan, terlepas dari kondisi menjijikkan dan najis. Anjing mendapat pelatihan khusus untuk mengendus berbagai aroma yang mencurigakan, terutama aroma amunisi atau boom yang diletakkan secara tersembunyi. Hal ini memperlihatkan bahwa anjing yang dianggap hina dan menjijikkan masih memberikan banyak manfaat bagi manusia hingga di level kepolisian tingkat elit sekalipun. Begitu indah dan memesono anjing piaraan pihak kepolisian negara dengan perawatan dan jaminan kehidupan yang sangat eksklusif. Tentu, hal ini sebagai wujud rasa perikehewanan yang tak perlu dicemburui oleh hewan lain karena demi tugas dan beban yang diembannya. Sisi lain dapat terlihat dari status anjing yang demikian menandakan bahwa sehina-hinanya seekor anjing masih ada kebaikan yang dimilikinya sebagai binatang yang memiliki sifat setia kepada majikan atau yang mpunya, terlepas dari sifat penjilat yang dicitrakan kepadanya. Rata-rata anjing yang hidup di perkotaan berumah mewah yakni tinggal serumah dengan orang-orang kaya. Fasilitas dan jaminan kesejahteraan hidupnya melampau binatang lain. Di sinilah salah satu sisi keberuntungan di balik kehinaan dan kejijikan seekor anjing.
Seekor anjing juga menjadi sebuah tamsil dari seorang pelacur yang meninggal dunia mendapat jaminan masuk sorga. Tiket meraih surga didasarkan atas kerelaannya memberi minum seekor anjing saat ia sendiri sangat membutuhkan air untuk mempertahankan hidupnya di sebuah sumur tua. Demi kelangsungan hidup makhluk lain berupa seekor anjing, ia sendiri (seorang pelacur) rela tidak meminumnya hingga nyawa merenggutnya. Betapa dalamnya kisah hikmah ini bahwa menolong anjing yang hina saja bisa masuk surga apalagi sampai menolong sesama manusia. Kisah lain penuh hikmah dari petualangan seekor anjing yang setia menjaga Sohibul Kahfi (sahabat mulut gua) beserta para pengikutnya dari kejaran musuh. Mereka tertidur pulas di dalam gua selama kurang lebih tiga setengah abad yakni setara dengan lamanya Indonesia di bawah jajahan belanda, anjing pula yang setia menjaga di depan mulut gua dengan mengirim isyarat lewat lolongannya. Peristisa kesetiaan dalam penjagaan inilah seeokor anjing dimaksud juga menuntut jaminan masuk surga. Sekelas anjing yang dianggap hina dan menjijikkan ini kelak di akhirat akan menjadi penghuni surga berkat kesetiaannya menjaga para ulama dalam kejaran musuh. Anjing pula yang dijadikan alat pencitraan negatif atau kurang baik terhadap seorang Syeikh Siti Jenar. Jasad Syeikh Siti Jenar yang dinyatakan sudah meninggal tergantikan dengan bangkai seekor anjing. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran atas kesesatan ajaran Syeikh Siti Jenar di dalam pandangan mata “dhohir” manusia kebanyakan namun mulia di hadapan Robnya. Bila demikian betapa sedih bila harus meratapi nasibnya hingga terbersit untaian rasa sayang sesama makhluk, “Kasihan Anjing” dalam kondisi masih panaspun tetap dihabisinya pula yakni berupa gorengan “Hotdog” dari sebuah nama makanan import semata. Nasib…!

Komentar
Posting Komentar