Oleh: Sugriyanto
Kemunculan hantu berwujud perempuan cantik berambut panjang tergerai di tengah malam yang penampakannya di waktu dini hari diberi nama “Ponteanak”, bukan nama salah satu kota di Kalimantan. Jenis hantu yang satu ini sering muncul dan memangsa hingga dipercaya memakan janin dalam kandungan usia muda. Beberapa kelahiran bayi prematur yang terlahir tak bernyawa lagi itu dipercaya telah dimakan hantu dari kalangan “ponteanak”. Sebagai langkah antisipasi atau bentuk perlawanan warga terhadap hantu yang kerap mengeluarkan suara tawa ngakak mirip suara melengking tertawanya orang perempuan kebanyakan yakni dengan membawa besi berani dan logam lain sebagai peng-“apes”-nya. Jenis kelamin hantu ini sebagai perempuan teridentifikasi dari rambut yang dimilikinya yakni panjang dan tergerai hingga menutup sampai ke bagian pantatnya. Selain itu, suara yang dikeluarkannya bernada sopran sebagai suara tertinggi milik kaum hawa pada lumrahnya.
Sebagamana ungkapan berikut, “Lain ladang lain belalangnya” atau “Lain lubuk lain ikannya”, termasuk pandangan warga di salah satu tempat atau daerah berbeda pula pandangan mengenai keberadaan hantu berwujud “ponteanak” itu sendiri. Berbeda daerah tentu berbeda pula cara pandang khalayak terhadap genre hantu tersebut. Semisal, warga Pulau Jawa pada umumnya memberi nama hantu tersebut dengan julukan “Sundel Bolong”, karena terdapat bolongan di bagian belikat atau di punggung bagian atas. Sundel Bolong dalam pandangan warga Pulau Jawa dan warga Nusantara pada pada umumnya dikesankan sebagai hantu pemakan “sate” beratus cocok. Sate yang disantapnya keluar terbuang lewat belikatnya yang bolong. Bila melihat peristiwa menyeramkan itu si tukang sate akan berlari terbirit-birit meninggalkan rombong beserta segala barang jualannya. Sedangkan Sundel Bolong versi Pulau Bawean bernama hantu “ponteanak” suka memakan janin dalam kandungan, bukan sate pada sebuah rombong. Bahkan, salah seorang sutradara memvisualisasikan hantu “ponteanak” ini dalam sound track filmnya berjudul “Sundel Bolong” yang diperankan oleh bintang film kenamaan. Sedangkan dalam pandangan warga Pulau Bawean berbeda mengenai hantu “ponteanak” dimaksud. Letak perbedaannya terlihat pada ukuran bolongan atau letak lubangnya. Kalau Sundel Boleng versi tanah Jawa berlubang di belikat dengan ukuran tak beraturan, sedangkan hantu “ponteanak” versi Pulau Bawean berlubang seukuran paku sebesar jari kelingking orang dewasa (baca, Bawean: pako juluk) di tengah ubun-ubun kepalanya. Pelafalan nama hantu “ponteanak” pada fonem {e} -nya dilafalkan taling seperti bunyi fonem {e} pada kata “nenek”. Kaum laki-laki merasa fobi atau takut dibuatnya sehingga bila bertemu atau dicegat di perjalanan di tengah malam oleh hantu “ponteanak” kebanyakan meninggal dunia akibat mengepal atau menggenggam kuat alat kemaluannya secara over protek. Alasannya, hantu “ponteanak” dipercaya sering membidik sasarannya pada alat kemaluan (penis,red) kaum leleki.
Pernah suatu kejadian, salah seorang lelaki dicegat gadis berparas jelita dan berbusana gaun penganten putih di jalan tanjakan antara Desa Daun dan Desa Sungairujing tepatnya di tanjakan jalan “Tongghengan”. Wanita jelmaan itu meminta ikut bonceng. Karena yang terlihat dari suar lampu dim sepeda motor seorang gadis cantik maka dibawanya. Tak berapa lama sepeda motor melaju turun menukik dan wanita jadi-jadian itu meraba paha lelaki tua itu. Saat itu pula lelaki itu sadar dan tancap gas dengan menyetir sebelah tangan karena tangan sebelahnya menggenggam kemaluannya. Tiba-tiba wanita cantik itu mendadak minta turun sebelum sampai pada batas lampu jalan dekat perkampungan yang terang menyala. Wanita yang diketahui sebagai hantu “ponteanak” melompat dari boncengan dan tertawa ngakak. Hampir sebulan lamanya lelaki itu merasa trauma untuk melintas kembali di jalan tanjakan “Tongghengan” antara Desa Daun dan Desa Sungairujing Kecamatan Sangkapura Gresik di tengah malam dini hari. Kurang etis rasanya bila oknum dari taropongbawean.wordpress.com harus nencantumkan identitas lelaki sebagai pengalam dimaksud.
Bukti adanya hantu “ponteanak” diceritakan pula oleh makhluk halus berwujud jin saat merasuk pada salah seorang perempuan beberapa waktu silam. Gadis yang kerasukan itu sempat menunjuk “base camp” atau tempat bersarangnya hantu “ponteanak” itu pada sebuah tempat di puncak ketinggian. Ia dalam kesurupan itu menunjuk ke arah puncak (baca, Bawean: koncongan) gunung Pulau Selayar Sangkapura Bawean Gresik. Benar dan tidaknya perlu diburu kembali info dan pengakuan warga setempat. Tanda bukti lain sebagai penguat adanya hantu “ponteanak” yang kerap memangsa atau memakan janin kandungan usia muda dibuktikan dengan adanya senjata penangkal. Biasanya kaum ibu dalam kondisi hamil muda dipersenjatai dengan besi berani, pisau, gunting, paku, dan jenis logam lainnya. Tak ketinggalan pula sekeping kaca cermin dibawanya pula ke mana ibu hamil itu hendak pergi, terutama mulai senja hari (baca,Bawean: sorop are).
Kisah misteri keberadaan hantu “ponteanak” ini pernah menggempar di antero Pulau Bawean di waktu silam. Salah seorang kakek pergi ke sawah di waktu malam dini hari menjelang pukul 02:00 waktu setempat. Sang kakek membawa sabit tajam yang berselempang di pinggangnya sambil memikul sebuah cangkul di pundaknya. Ia pergi tanpa sebuah sentar penerang karena kala itu cahaya rembulan bersinar terang benderang. Kepergian kakek menuju areal persawahan di malam dini hari itu untuk mengatur pembagian atau sirkulasi pancuran air dari satu pematang (baca,Bawean: tabun) ke pematang sawah lainnya. Jarak antara rumah kediaman Sangk kakek hanya ditempuh dalam hitungan menit saja untuk sanpai menujunya. Sehabis melakukan pembagian saluran air pancuran itu dengan sebuah cangkul, Sang kakek beristirahat sejenak sambil duduk di sebuah dangau kecil berupa gazebo (baca, Bawean: dhurung) untuk melepas penat.
Beberapa jenak sang kakek duduk santai sambil mengisap tembakau hasil plintirannya, tiba-tiba air hujan mengalir dari atap dangau dimaksud. Serta-merta perasaan curiga berkecamuk dalam diri Sang kakek karena pada malam itu langit tak berawan dan cerah gemilang. Kakek beranjak mencari tahu dengan mengawas cermat seluruh atap dangan mengarahkan sorotan matanya ke arah wuwung dangau itu. Terlihat olehnya seorang perempuan berambut panjang tengah menangis seduh melinangkan air matanya. Rambutnya yang panjang hitam pun turut tergerai hingga melebihi rendahnya atap rumbia dangau itu. Tanpa pikir panjang kakek nekat menyimpul dan menarik rambutnya hingga hantu “ponteanak” itu terjerembab ke bawah dan tak berdaya. Langsung saja sang kakek mengambil paku juluk di dangau itu seraya menancapkannya pada lubang kepala tepat di ubun-ubunnya hingga tak berkutik. Akhirnya, hantu “ponteanak” itu menjelma menjadi perempuan cantik dengan pakaian berkain “durjet” warna pink kusam seadanya. Sebagai bentuk pertanggung jawaban antara keduanya terjadi kesepakatan untuk tidak mengungkap ke siapa pun misteri penjelmaan ini.
Kemudian kakek tua itu mengajaknya pulang untuk tinggal di rumahnya bersama nenek yaitu istri Sang kakek. Kebetulan di dalam lemari tua itu tersimpan berbagai mode trendy baju anak gadis semata wayangnya yang telah lama berpulang atau meninggal. Perempuan jelmaan hantu “ponteanak” itu merasa senang dan cocok dengan segala baju peninggalan anak gadis kakek itu. Beberapa baju diambil dari dalam lemari tua sambil mencobanya satu persatu. Nenek pun merasa senang melihatnya karena sudah dapat pengganti anak semata wayangnya yang telah tiada. Ikhwal cerita wanita jelmaan itu sudah didengar semua dan nenek berjanji tidak akan membuka aib ini ke siapa pun.
Pagi setelah hari mau siang, nenek hendak berbelanja ke pasar dan mengajak wanita yang menjadi anak gadis pungutnya itu. Pulang dari berbelanja dari pasar, salah seorang jejaka tampan mencoba menguntit dari belakang karena dibikin penasaran olehnya. Sampai di rumah sang nenek, pemuda tampan itu tanpa tedeng aling-aling rupanya ada chimestri padanya hingga berminat menyuntingnya. Kakek dan nenek pun senang, termasuk gadis jelmaan hantu “ponteanak” tersenyum simpul karena diam-dian ia menaru hati pada pemuda yang tampan itu hingga terjadi hubungan dan akhirnya menikah.
Beberap tahun kemudian kakek dan nenek telah tiada. Pasangan harmonis itu dikaruniai dua anak yaitu anak pertama perempuan dan anak yang kedua laki-laki. Untuk menghidupi kedua anak dan istrinya itu sang suami pergi merantau ke luar negeri. Sampailah pada usia anak perempuannya bersekolah di SD kelas IV dan adiknya yang laki-laki masih dalam usia gendongan. Tiba-tiba ibunya meminta kepada anak perempuannya untuk menyelek atau mencari kutu di kepala ibunya dengan alasan gatal. Duduklah mereka bertiga di sebuah dangau kecil di waktu sore menjelang magrib. Anak perempuannya terus mencari kutu sambil menyingkap-nyingkap helaian rambut hingga mendapati sebuah benda keras berupa paku yang menancap di ubun-ubun kepala ibunya. Sang anak bertanya mengenai ihwal paku itu. Ibunya menegaskan kembali benda itulah yang mungkin membuat gatal. Anaknya yang lelaki sampai tertidur dan diletakkan pada sebuah ayunan kain sarung bapaknya. Sang ibu meminta cabutkan benda yang dianggap asing berupa paku berkarat karena sudah lama menancap. Sang anak perempuannya berusaha sekuat tenaga untuk mencabutnya hingga mencari perkakas kakeknya di laci slorokan lemari tuanya. Ia menemukan sebuah catut atau tang karat (baca,Bawean:palaes). Dengan susah payah anak perempuannya berhasil mencabut paku juluk dari ubun-ubun di kepala ibunya. Paku tercerabut dan ibunya terbang ngakak berhasil kembali ke wujud aslinya yang semula sebagai hantu “ponteanak”. Untuk menutup aib ini setelah beranjak remaja kedua anak itu menyusul pergi ke luar negeri untuk tinggal bersama bapaknya berada hingga saat ini tiada kembali. Justru, hantu “ponteanak” itu yang selalu datang mencari anak bayinya yang masih dalam gendongan itu. Peristiwa inilah yang menjadi awal kepercayaan warga setempat terutama bagi ibu hamil muda merasa akan diambil atau dimakan janinnya oleh hantu “ponteank” sebagai pengganti bayinya sendiri yang berada dalam sarung gendongan serupa janin dalam kandungan. Kisah misteri inilah yang selalu menghantui ibu hamil muda ke mana hendak pergi ke luar rumah di sore dan malam hari. Hantu “ponteanak” itu dipercaya muncul dalam penampakannya di setiap malam Jumat kliwon, bahkan malam-malam dini hari dan tempat sepi sering datang menjelma. Takutnya!
Komentar
Posting Komentar